Jangan jadi pendengar yang buruk bagi anak

Jangan Jadi Pendengar Yang Buruk Bagi Anak!

Banyak diantara kita adalah sebagai pendengar yang buruk bagi anak-anak kita. Bila ada suatu masalah pada diri anak, terkadang kita lebih suka menyela, langsung menasehati tanpa mau bertanya dan melihat sumber masalahnya.

Contoh, saat anak kita telat pulang sekolah. Kita menjadi khawatir, menunggunya hingga sore hari, namun tanpa bertanya terlebih dahulu dan mendengar penjelasan anak, terkadang kita langsung memarahinya dengan serentetan pertanyaan, omelan bahkan terkadang dengan hukuman fisik. Kita selalu memotong bantahannya, tidak memberi anak kesempatan untuk menjelaskan apa yang terjadi. Akibatnya, anak tidak mau berbicara dengan kita, langsung masuk ke kamar dan menganggap orang tuanya tidak mempunyai kepercayaan terhadap dirinya.

Padahal saat itu, saat dimana mereka sangat membutuhkan pendengar dan kepercayaan yang baik dari pihak keluarganya. Mereka ingin menjelaskan keterlambatannya dikarenakan adanya tugas kelompok atau hal-hal positif lainnya.

Mereka akan terlihat lebih murung jika berada dalam rumah dan lebih mempercayai teman yang menurutnya dapat menjadi pendengar baik bagi dirinya.

Jadilah pendengar yang baik, perhatikan setiap ucapan anak dan biarkan mereka menjelaskan secara terperinci akan setiap kejadiaan dan masalah yang dialaminya, hingga anak mengatakan “Bagaimana menurut Ayah/ Bunda?

Ajukan pertanyaan positif yang menunjukan ketertarikan kita terhadap permasalahannya, diskusikan dengan cara terbaik yang kita miliki tanpa harus melukai perasaannya.

Ingatlah Tuhan menciptakan kita dua telinga dan satu mulut, yang artinya Tuhan menghendaki kita dua kali mendengar dan satu kali berbicara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *